Curhat

Kebab dan Kenapa Kita Bekerja

Kebab in a pancake with vegetables on a table

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat galau ketika melihat video tentang gerakan pensiun dini yang bernama F.I.R.E (Financial Independence, Retire Early).

Orang-orang yang “bermazhab” F.I.R.E ini berusaha mengumpulkan uang dengan (biasanya) sangat berhemat, dan uang yang terkumpul akan diinvestasikan (biasanya pada produk saham, obligasi, dll), yang hasilnya digunakan untuk menjadi dana pensiun dini. Pensiun dini disini bukan umur 50, ada yang pensiun di umur 40, 35 bahkan 30. Suatu konsep yang sangat “menggoda”.

Jika teman-teman penasaran ingin melihat videonya, berikut adalah salah satu video yang paling “menggoda”:

Saya membaca F.I.R.E ini sudah semenjak bertahun-tahun yang lalu tapi ntah kenapa beberapa bulan terakhir jadi tertarik lagi. Mungkin karena Algostudio dan Algorocks yang tumbuh dengan cepat, dan itu membawa konsekuensi beban pekerjaan yang semakin banyak dan stress yang makin tinggi.

Sebegitu “hectic”-nya urusan pekerjaan ini beberapa waktu ini sampai-sampai hidup saya terasa didikte oleh ToDo List dan kalender meeting. Sebegitu sibuknya sampai-sampai saya literarly pusing ketika otak sedang rileks. Saya tidak punya waktu untuk keluarga, bahkan ibadah.

Ketika kondisi yang demikian hectic, konsep pensiun dini dan hidup tanpa beban seolah-olah menjadi oasis ketika kehausan di padang pasir hahaha.

Nah, tapi itu sebelum saya mendapatkan inspirasi dari makan kebab. Iya, kebab di pinggir jalan, kebab Baba Rafi lebih tepatnya.

Begini ceritanya:

Pada saat saya kuliah di Bandung, saya suka sekali dengan Kebab Baba Rafi. Itu menjadi menu yang saya beli seminggu sekali, dan dinikmati sambil menonton dexter di laptop bersama istri setelah selesai kuliah. That will be a highlight of my day.

Pada saat itu, saya (alhamdulillah) tidak kekurangan uang, namun membeli kebab tetap menjadi sesuatu yang cukup “terasa” di kantong. Pada saat itu saya bercita-cita ingin menjadi orang yang kaya, yang bisa beli kebab dua bungkus sekaligus tanpa terasa di kantong.

Jadi dulu definisi kaya saya adalah…bisa beli kebab tanpa terasa.

Lompat ke jaman now.

Beberapa hari yang lalu saya sarapan kebab seperti biasa. Pada saat itu saya melihat kebab di depan mata, dan tiba-tiba ingat rasanya makan kebab di Bandung. Saya tiba-tiba sadar. Rasa makan kebab sekarang kok biasa ya? Mana perasaan excited ketika mau makan, dan perasaan ingin mengigit pelan-pelan agar tidak cepat habis? Kenapa rasanya jadi biasa saja berbeda dengan ketika dulu di Bandung?

Ternyata banyak hal di dunia ini yang terasa sama dengan kasus kebab. Yang awalnya kita sangat excited dan mendambakan, ketika kita sudah terbiasa, rasa specialnya akan hilang. Ntah itu mobil bagus, headset bagus, kursi kerja bagus, TV bagus, dll. Ketika sudah sering dipakai, rasanya jadi tidak terlalu istimewa.

Lalu saya berpikir lagi. kalau kebab bukanlah jawabnya, Sebetulnya apa yang membuat saya merasa trully happy? Saya coba merenung sambil melihat kebab tidak berdosa di depan mata. Saya coba mengingat-ingat hal apa yang menyenangkan terlepas dulu dan sekarang. Apa yang meskipun berkali-kali dapat, tapi rasa bahagianya tetap sama.

Ada beberapa hal yang terpikir. Hubungan dengan keluarga, sahabat, dan tuhan, salah satunya. Tetapi selain itu juga: Bisa bermanfaat bagi orang lain.

Ntah itu dari perbuatan yang kita lakukan atau produk yang kita buat. Mulai jaman dahulu sampai sekarang, tahu bahwa hidup kita bukan hanya sekedar “hidup”, itu selalu menjadi highlight of my day. Sebut saja ada review di store tentang bagaimana user bahagia menggunakan produk kita, atau end-user yang dulunya harus begadang untuk mengirimkan laporan dan sekarang tugasnya selesai ketika sampai rumah, dan beberapa hal lain yang bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain. Hal-hal ini rasa bahagianya lebih awet, dan terasa lebih “hakiki”.

Nah, gara-gara kebab ini akhirnya saya belajar dua hal:

Satu, pensiun dini bukanlah jawabnya. Saya tahu ketika saya pensiun dini, pendapatan saya akan berkurang drastis, dan saya akan lebih tidak bermanfaat hahaha. Tebakan saya pensiun akan memiliki nasib seperti kebab, menjadi sesuatu diharap-harapkan, tetapi akhirnya menjadi sesuatu yang biasa. It won’t bring happiness.

Kedua, untuk bisa trully happy kita harus menata niat bekerja. Goalnya adalah membuat produk yang membawa manfaat bagi orang lain. Terlepas bagaimana hasilnya, tetapi ketika kita bekerja dengan niat bukan hanya mencari angka di rekening, prosesnya pun bisa membuat kita lebih bahagia. It’s the journey not the destination.

Dari dua epiphany ini akhirnya saya merasa “kegalauan” selama beberapa bulan terakhir jauh lebih berkurang. Jika di sini ada teman-teman yang merasakan kegalauan yang sama: merasa beban kerja terlalu berat dan ingin pensiun. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk memberikan perspektif yang lain.

Sekian dan mari kita tetap berbahagia dalam bekerja.

Curhat

Janji palsu episode sekian

Markas pusat di kantor

Salah satu janji yang saya langgar berkali-kali, adalah “saya berjanji akan rajin menulis blog”. Janji ini dimulai ketika pertama kali kenal komputer dan blog, dan sudah berkali-kali dilanggar sampai saat ini. Beberapa kali menemukan semangat untuk menulis, dan beberapa kali pula menemukan alasan yang sama untuk tidak menulis, yaitu:

Saya tidak sempat.

Ambil contoh hari ini. Hari ini ketika saya sedang menulis artikel ini, todo list saya berisi 12 item. Artinya, ada 12 pekerjaan yang harus saya kerjakan di hari ini. Padahal, biasanya saya hanya bisa mengerjakan 6-7 todo sebelum terlalu capek dan harus istirahat. Dengan kondisi yang sudah over 6 todo, kenapa saya harus menambah pekerjaan yang sifatnya “sunnah ” seperti menulis?

Tetapi kali ini berbeda.

Continue reading →