Ketika praktik terbaik bukan praktik terbaik

Dengan semakin mudahnya orang bisa mengemukakan pendapat di internet (contoh: blog ini), kita digempur dengan berbagai macam ide untuk praktik terbaik (best practice). Ada praktik terbaik pada topik bagaimana cara brain-storming yang baik, bagaimana membuat aplikasi yang bisa diunduh jutaan kali, meningkatkan penjualan, menentukan harga, bahkan ada praktik terbaik untuk memotong bawang.

Bergantung dari siapa yang menulis, tingkat penularan praktik terbaik ini bisa rendah, sedang, atau bahkan sampai punya kultus fanatik. “Kalau kamu tidak mengikuti praktik ini, kamu bodoh dan perusahaanmu akan bangkrut”, anggapnya.

credit: https://www.facebook.com/EnComics

Kenyataanya adalah semua praktik terbaik selalu kontekstual. Praktik terbaik untuk membuat aplikasi sederhana, akan berbeda dengan praktik terbaik untuk membuat aplikasi dengan ratusan ribu line code, dan berbeda pula dengan membuat aplikasi dengan jutaan line code. Praktik terbaik manajemen proyek di perusahaan berbasis produk, akan berbeda dengan manajemen proyek untuk proyek.

Apa yang kita rasa berjalan dengan baik di Algostudio ketika jumlah karyawannya hanya 10, tidak dapat berjalan dengan baik ketika jumlah karyawannya 30. Begitu pula ada perbedaan praktik terbaik ketika kerja onsite, dan ketika remote.

Semua ada konteksnya.

Saya tidak bilang bahwa belajar dari praktik terbaik orang lain itu buruk. Tetapi sama seperti halnya ketika membaca artikel di internet, skeptis itu penting.

Selain pentingnya melihat konteks pada saat mengimplementasikan praktik terbaik, kita juga harus sadar bahwa mengimplementasikan praktik terbaik bisa mengganggu “flow” yang sudah ada.

Ini belum tentu sesuatu yang buruk, karena kalau perusahaan benar benar tidak mau “flow”-nya diubah, perusahaan tersebut juga tidak akan pernah berkembang. Tetapi perlu diingat bahwa perubahan yang terlalu besar bisa merusak “ketenangan” saat bekerja. Karyawan bukan hanya capek menghadapi tugas rutinnya, tetapi juga capek menghadapi perubahan yang terjadi.

Oleh karena itu perubahan sedikit demi sedikit, sambil menyesuaikan dengan kondisi yang ada, dan konsisten itu jauh lebih baik daripada berusaha mendadak mengimplementasikan praktik terbaik. Sering kali ketika awalnya kita mengikuti praktik terbaik dari orang lain, di akhir kita menemukan praktik terbaik yang lebih sesuai dengan kondisi perusahaan kita.

Terakhir saya ingin menekankan bahwa tidak ada salahnya mengikuti praktik terbaik. Yang salah adalah kefanatikan berpikir bahwa “kalau praktik terbaik ini berjalan baik di sana, maka akan berjalan baik di sini”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *