Curhat

Janji palsu episode sekian

Markas pusat di kantor

Salah satu janji yang saya langgar berkali-kali, adalah “saya berjanji akan rajin menulis blog”. Janji ini dimulai ketika pertama kali kenal komputer dan blog, dan sudah berkali-kali dilanggar sampai saat ini. Beberapa kali menemukan semangat untuk menulis, dan beberapa kali pula menemukan alasan yang sama untuk tidak menulis, yaitu:

Saya tidak sempat.

Ambil contoh hari ini. Hari ini ketika saya sedang menulis artikel ini, todo list saya berisi 12 item. Artinya, ada 12 pekerjaan yang harus saya kerjakan di hari ini. Padahal, biasanya saya hanya bisa mengerjakan 6-7 todo sebelum terlalu capek dan harus istirahat. Dengan kondisi yang sudah over 6 todo, kenapa saya harus menambah pekerjaan yang sifatnya “sunnah ” seperti menulis?

Tetapi kali ini berbeda.

Dulu, saya berpikir menulis adalah sesuatu yang sifatnya “sunnah”. Sesuatu yang boleh ditinggalkan, tetapi kalau dikerjakan akan lebih baik. Sama seperti bonus objective ketika bermain gim. Oleh karena dia bonus objective, maka dia bisa ditinggalkan, apalagi kalau kita berpikir “kalau saya mengerjakan bonus objective, misi utamanya akan gagal”

Dan itu salah.

Pada kasus saya, menulis ini wajib kalau ingin Adib yang sekarang memiliki kemampuan yang sama, atau bahkan lebih baik dari Adib yang dulu.

Kok bisa? Nah alasannya ada hubungannya dengan shallow work dan deep work, suatu konsep yang yang disebutkan oleh Cal Newport di bukunya yang berjudul “Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World”.

Shallow work adalah pekerjaan yang tidak membutuhkan kemampuan kognitif, biasanya banyak repetisinya, dan bisa dikerjakan dengan distraksi. Hasil dari pekerjaan shallow work biasanya mudah untuk direplikasi, dan biasanya tidak bernilai tinggi. Contoh dari shallow work adalah membalas email, meeting, membalas chat, scroll social media, dll.

Deep work adalah kebalikan dari shallow work. Deep work adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kognitif yang tinggi, kreatifitas, dan membutuhkan lingkungan yang bebas distraksi. Biasanya hasil dari deep work sulit untuk direplikasi, dan bernilai tinggi. Contoh dari deep work adalah membuat konsep, menulis, memikirkan strategi, dll.

Cal Newport berkata sesuatu yang membuat saya “tertohok tujuh keliling”. Dia berkata bahwa kemampuan untuk melakukan deep work adalah skill. Sama halnya dengan skill yang lain seperti berenang, berspeda, dll; Semakin orang tidak terbiasa melakukannya, semakin akan sulit untuk melakukannya. Bahkan (yang ini saya agak lupa sumbernya), orang yang terbiasa melakukan deepwork/shallow work, secara fisik juga akan ada perubahan di otaknya.

Dan disitulah masalahnya…

Meskipun sama-sama bertitle CEO, beberapa tahun yang lalu kepanjangan CEO bagi saya adalah Chief of Everything Officer. Meskipun sudah dibantu banyak orang-orang hebat di kantor, tetapi saya masih tetap sering ikutan membuat konsep system, alur bisnis, menulis, bikin cerita, bikin UI, bahkan ngoding. Kalau sekarang job description saya lebih mirip dengan CEO beneran. Meeting, One-on-One, membalas email, chat, dll.

Dan ini masalah.

Bukan berarti meeting dan membalas chat itu tidak penting (Malah pada banyak kasus itu sangat penting). Tetapi, itu semua adalah shallow work. Ini diperparah lagi dengan begitu banyak distraksi dari social media, 9gag, dll. Sambil bekerja selalu ada rasa ingin mengetikkan karakter F di browser.

Cal New Port berkata bahwa orang yang terbiasa melalukan shallow work, dan tidak terbiasa melakukan deep work, akan sulit untuk mengerjakan deepwork.

Dan itu terjadi pada saya. Dulu saya kuat seharian fokus mengerjakan sesuatu tanpa adannya keinginan untuk membuka social media, email atau whatsapp. Sekarang? kalau bisa kerja fokus lebih dari satu jam, itu sudah menjadi sesuatu yang luar biasa. Lalu saya ingat beberapa tahun yang lalu, waktu itu mudah sekali bagi saya untuk duduk dan melakukan sesuatu dengan sangat fokus selama berjam-jam.

Dan ini buat saya bahaya. Bahaya banget.

Saya setuju dengan pernyataan Cal Newport, bahwa biasanya karya-karya yang bernilai tinggi itu didapatkan dari deep work. Kalau saya sudah tidak terbiasa melakukan deep work, maka hasil output pekerjaan saya akan bernilai murah.

Oleh karena itu, hari ini saya putuskan untuk melatih kemampuan dalam melakukan deep work. Salah satu caranya adalah dengan rajin menulis. Menulis bukan lagi bonus objective, tetapi main quest yang harus dilakukan kalau ingin tetap bisa berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *