Belajar dari masa depan

Selamat datang di era dimana kentut lebih bermartabat dari batuk.

Covid-19 memang memiliki efek yang luar binasa. Di Amerika, 3,28 juta orang pengangguran karena covid-19 (sumber). Menteri dalam negeri Indonesia juga memperkirakan jumlah pengangguran karena Covid-19 di Indonesia bisa mencapai 8.75% ( Itu hampir satu dari sepuluh orang). beberapa teman startup mengalami relaksasi pembayaran (bahasa yang halus sekali untuk artinya menunda pembayaran), ada juga beberapa teman startup yang tutup sementara, dan banyak juga yang tutup untuk selamanya.

Sebagian besar orang memang tidak menduga akan adanya Covid-19 dengan segala efeknya. Banyak perusahaan di tahun lalu sudah memikirkan akan ekspansi dan tahun ini tiba-tiba bangkrut.

Dengan banyak sekali ketidakpastian, wajar kalau sekarang banyak perusahaan kebingungan harus melakukan apa. Apakah harus menahan modal, atau malah menggenjot inovasi dan digitalisasi? Atau mungkin malah membuka lowongan pekerjaan?

Dalam menentukan langkah, biasanya kita belajar dari masa lalu. Contoh sederhananya kalau saya menakar berapa banyak gula untuk kopi, saya akan melihat apakah kopi yang saya minum sebelumnya terlalu manis, kurang gula, atau sudah pas. Kalau kopi yang saya minum sebelumnya kurang manis, maka saya akan menambahkan takaran gula, begitu juga sebaliknya.

Permasalahan pada Covid-19 ini adalah kita tidak punya pengalaman di masa lalu untuk menjadi perbandingan. Kalaupun ada wabah se-massive ini, dampak ekonominya sedikit sekali tercatat rapi dalam sejarah.

Jadi apa yang sebaiknya harus kita lakukan?

Strategic foresight

J. Peter Scoblic di majalah Harvard Business Review menyarakan untuk melakukan “Strategic foresight”. Strategic Foresight adalah suatu kegiatan ter-struktur dalam mengumpulkan ide untuk mengantisipasi beberapa kemungkinan skenario di masa depan.

Strategic foresight tidak bertujuan untuk memprediksi skenario apa yang akan terjadi di masa depan, tapi lebih pada mempersiapkan diri untuk beragam skenario yang mungkin terjadi.

Berdasarkan pemikiran ini, bulan lalu saya sempat membuat strategic foresight untuk Algostudio dan membuat setidaknya lima skenario mulai dari yang memiliki kemungkinan terbesar sampai yang terkecil terjadi. Tiap skenario memiliki catatan tahapan yang akan terjadi, solusi yang harus diambil, resource yang dibutuhkan, serta efek positif dan negatifnya.

Hasil dari belajar dari masa depan ini adalah insight apa yang harus dilakukan ketika skenario itu terjadi, dan apa saja yang harus disiapkan mulai dari sekarang. Dengan membuat strategic foresight ini suatu perusahaan bisa lincah ketika pada masa depan dituntut untuk mengubah skenario bisnisnya.

Efek positif lainnya dari strategic foresight ini adalah kita dipaksa untuk lebih mengenal perusahaan kita. Kita dipaksa untuk mendapatkan data dengan lebih detail dan pada akhirnya membuat kita lebih mengerti dengan kondisi perusahaan secara riil.

Pentingnya mempertahankan tempo

Pada masa pandemi ini memang mudah untuk panik. Kondisi ekonomi menurun tajam, mayoritas pegawai (tidak hanya di Algostudio) ingin kembali kerja di kantor, moral tim turun, stress meningkat, dan sarana rekreasi juga sangat terbatas. Satu-satunya berita yang dianggap baik selama beberapa bulan terakhir ini adalah pembukaan blokir Netflix.

Sebagian orang berusaha menghadapi kepanikan ini dengan kerja lebih keras dari biasanya. Jika biasanya kerja 8 jam, sekarang dinaikkan menjadi 12 jam. Jika biasanya kerja di hari senin-sabtu, sekarang jadi full seminggu menjadi hari kerja. Andai kata seminggu bisa dibuat sepuluh hari, maka kita akan bekerja sepuluh hari dalam seminggu.

Menurut saya pribadi, menambah beban kerja bukanlah jawabannya. Bukankah pada balapan F1 mesin yang bekerja terlalu keras akan lebih cepat rusak, dan hanya menguntungkan di lap awal-awal saja? Gol suatu perusahaan adalah menang championship, atau bahkan beberapa championship, bukan hanya satu atau dua lap saja (disclaimer: baru main Motor Sport Manager). Suatu pemimpin perusahaan harus dapat melihat efek yang terjadi pada jangka panjang, dan bukan hanya efek ketika pandemi ini terjadi saja. Efek tersebut bisa jadi positif atau negatif, pada semua stakeholders yang bukan hanya pegawai dan perusahaan, tetapi juga pada customers dan klien.

Que sera, sera

Kita menebak-nebak masa depan bukan karena mendahului takdir, tetapi lebih untuk mempersiapkan diri. Tetapi penting untuk diingat kalau itu hanyalah tebakan. Yang lebih penting untuk sekarang adalah ambil langkah yang dianggap paling benar. Insha Allah hasilnya akan mengikuti…

Malang, 26 July 2020

(Visited 47 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *